#22
Dulu sekali, aku pernah minta suatu hal pada Tuhan. Agar aku diberi waktu istirahat dari rentetan patah hati dan kehilangan yang perlahan-lahan mematikan hatiku ini.
Lalu sekarang Tuhan mendatangkan kebahagiaan dalam bentuk kamu sepaket dengan hal-hal yang membuatku mencoret "aturan-aturan" jatuh cinta. Iya, ternyata kamulah yang mampu membuatku menerobos batasan hal-hal yang tidak boleh kulakukan.
Selamat ya, kamu luar biasa!
Kupikir, nyamanku hanya ada pada sebuah ruangan bernama kamar. Ternyata kutemukan juga di tempat lain: di sela jari-jarimu yang diisi oleh jari-jariku.
Dan akhirnya, aku tidak lagi sendirian di dunia yang serba berpasangan ini. Ada kamu, seseorang yang aku tahu kelak akan pergi karena aku tahu datang dan pergi juga mutlak berpasangan.
Jika nanti ada saat kamu merasa lelah mendampingi, berhenti saja. Mungkin disitulah akhirnya. Akhir dari sebuah cerita yang berisi kamu sebagai pendampingku. Lalu aku diharuskan memulai sebuah cerita baru lagi, sendirian.
Tapi tolong, menetaplah selama yang kamu mampu. Selamanya, kalau bisa. Aku masih betah menatap wajahmu lama-lama. Masih merasa senang setiap kali melihatmu tertawa. Masih ingin bersamamu.
Komentar
Posting Komentar