Perayaan Serah

Kalimat klise untuk pamit, hingar-bingar hening, kilau air mata yang jadi hiasan, lelah yang akhirnya dimanjakan, dan sabar yang tidak lagi bersisa.

Aku duduk di pojokkan kamar. Sedari tadi menajamkan ingatan tentang kita lewat obrolan lama yang diabadikan teknologi. Rasanya baru saja kemarin kita membahas rasa mie instan apa yang paling enak. Tapi saat ini, kita akan mulai menjadi asing.

Setiap obrolan sampah jadi menyenangkan jika itu dibahas olehmu. Waktu selalu terasa cepat jika itu dihabiskan denganmu. Semua tempat jadi terasa indah jika didatangi bersamamu. Tapi sekarang, rasanya semua itu tidak lagi berarti.

Jika aku mau, aku bisa mencintaimu sampai Tuhan muak. Tapi aku tidak mau lagi. Rasanya sudah cukup baik aku mencintaimu, tapi sikapmu tidak juga berubah.

Semua usahaku sia-sia.

Dan dengan berat hati, aku merayakan keberserahan ini. Kuumumkan pada nyamuk-nyamuk di kamar bahwa aku akan berhenti mencintaimu. Kutuliskan janji di atas kertas agar kali ini aku tidak goyah. Kuhentikan semua do'a perihal dibersamai denganmu.

Aku sendiri saja. Dengan cita-cita memelihara kumang. Dengan lagu-lagu sedih di hari yang cerah. Dengan laptop rusak yang sering mati tiba-tiba. Dengan ponsel baruku. Dengan pohon kelapa depan kamar yang sering kupotret jika langit sedang biru-birunya. Dan dengan semua hal yang tidak lagi berkaitan denganmu.

Sekarang, hanya ada aku.

Dan kebahagiaan-kebahagiaanku.

Komentar

Postingan Populer