Cinta dan Luka(s)

Sebelum membaca tulisanku, apakah kalian sudah membaca tulisan Yoga? Karena dia aku menulis ini. Kalau belum, silahkan baca dulu di sini.
Cinta Syakila Kusmana PoV

Harusnya dia tetap menyimpan perasaan itu dalam-dalam, sendirian. Karena meski dia teriakkan perasaan hanya lewat hatinya, aku tetap akan mendengarnya. Aku tahu perasaan sayangnya lebih dari sekadar sahabat. Aku tahu dia mencintaiku. Aku tahu.

Aku hanya memilih untuk tuli.

Mungkin dia lupa kalau aku ini yang paling peka di antara kami bertiga?

Seperti yang dia tahu, saat dia menatapku, aku menatap seseorang yang lain. Saat dia berusaha untuk selalu ada untukku, aku juga melakukan hal yang sama. Hanya saja, aku berusaha lebih untuk seseorang yang lain itu. Lihat bagaimana aku juga memilih untuk buta?

Dia tahu itu. Lantas kenapa dia tidak terus memendamnya? Tapi jika aku diberi kesempatan untuk jujur, seandainya saja perasaan bisa kukendalikan, aku akan memilih untuk mencintai dia yang mencintaiku.

Brengseknya, perasaan tidak diciptakan untuk bisa dikendalikan oleh pemiliknya. Dan karena itu, aku terus melihat seseorang yang tidak melihatku.

Karmaku dibalas tunai saat ini juga. Dia patah, aku lebih dari itu.

Aku tidak pernah bermain-main dengan perasaan seseorang yang mencintaiku. Tapi seseorang yang kucintai mempermainkan perasaanku.

Rusaklah sudah. Apa yang ada di antara kita bertiga, kurusak saja sekalian. Biar kuucapkan dengan jelas. Aku tidak mencintai Yoga. Aku menginginkan Lukas!

Tapi tatapanmu, Lukas.
Tatapanmu.
Aku ingin berpura-pura buta.
Tapi semua itu terlalu jelas.
Jelas tidak cinta di sana.

Lalu kenapa kamu menyentuhku?

Setelah membaca tulisanku, selanjutnya bacalah juga tulisan Lukas di sini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer