Bintang
Hari itu, sama seperti hari-hari sebelumnya. Hari penuh kasih dan sayang. Selalu. Dari Ibu.
Dia menatapku, mengusap rambutku. Lalu seperti biasanya, aku memeluknya. Dan setelah itu, dia memulai ceritanya.
"Ibu juga punya cita-cita. Sama tingginya dengan milik Ayahmu. Sama terencananya. Tapi saat Ibu tahu ada kamu, sedetikpun Ibu nggak pernah bimbang. Ibu mau kamu ada di dalam proses pencapaian mimpi Ibu.
Meski Ibu tahu jalannya akan berkali-kali lipat lebih sulit, Ibu mau kamu tetap hidup. Bahkan sejak kali pertama Ibu melihat kamu di dunia, bahagiamu itu cita-cita utamaku.
Pertama kali Ibu menginjakkan kaki di kota ini, air mata Ibu menetes. Banyak sekali takut di diri ini. Tapi Ibu harus berani. Untuk kamu. Untuk kita.
Beruntung akhirnya Ibu bertemu Eyang. Meski banyak yang mencibir, dia tetap menganggap Ibu sebagai anaknya. Dan kamu jelas cucunya.
Saat itu, rasanya bumi tidak pernah berputar untuk Ibu. Tidak semenitpun. Ibu sebenarnya lemah, tapi kamu yang jadi kuatku. Terima kasih karena sudah mau hadir ke hidup Ibu. Terima kasih banyak."
Ibu mencium puncak kepalaku. Aku memeluknya sedikit lebih kencang.
"Maaf karena keegoisan Ibu tokoh di ceritamu jadi nggak selengkap milik orang lain."
Aku ingin menyangkalnya. Tapi aku memilih diam.
"Ibu banyak belajar sekali selama hidup. Dan kamu, pelajaran paling menyenangkan. Meski waktu kecil kamu bandelnya minta ampun, Ibu selalu bahagia.
Kamu ingat waktu Eyang mau bawa kamu ke orang pintar saking bandelnya kamu?"
Aku mengangguk sambil tertawa. Jelas saja aku ingat. Saat itu Eyang bahkan membuatku minum air yang sudah dia bacakan Ayat Kursi.
"Eyang takut cucunya ditempeli hantu anak-anak. Bandelmu itu nggak wajar untuk anak cewek."
Aku ingat masa kecilku yang menyenangkan tapi pasti mengesalkan sekali untuk Eyang.
"Ibu senang saat membuat baju-baju cantik untukmu. Melihatmu berputar-putar centil di depan cermin memakai baju yang Ibu buat, rasanya luar biasa.
Jika saja sejak awal Ibu tahu hadiah dari tidak ada uang sama sekali di dompet, rasa lapar yang ditahan, rasa bersalah, rindu yang menusuk hati, hari-hari sulit, malam-malam penuh tangis itu adalah senyumanmu, Ibu tidak akan banyak mengumpat pada Tuhan.
Ibu rela menjalani semua itu berkali-kali jika hadiahnya adalah bahagiamu yang kulihat sekarang."
Harusnya, harusnya aku menyangkalnya saat itu. Harusnya aku bilang meski hanya ada aku dan Ibu, rasanya lebih dari cukup. Aku bahagia sekali meski dengan Ibu saja.
Sekarang, aku tidak lagi bisa memeluknya. Tidak lagi bisa melihat Ayah dari cerita Ibu.
Komentar
Posting Komentar