Barisan Kata #1

#01
Merelakan
Adalah
Bahasa
Cinta
Di
Duniaku.
Selamat pergi.
--
#02
Luka-luka,
Kesedihan,
Dan risau.
Tak bisa terelakkan.

Aku menulis.
Hanya agar hal-hal di bait pertama bisa sembuh sebab tangis tak lagi mampu menyembuhkan.
Hanya agar tetap waras sebab kepala terlalu riuh dengan marah yang tak boleh disalurkan.

Aku hanya menulis.
Bukan penulis.
--
#03
Merekatlah bahagia,
Merekahlah cinta,
Mendekatlah..



Kita.
--
#04
Tuhan, bersiaplah bosan mendengar namanya kurapal disetiap do'a.
--
#05
Tubuhnya bergetar.
Bibirnya terkunci rapat menahan isak.
Dia bersujud.
Berharap air mata dan sakit di hatinya akan dihisap oleh bumi atau terbang menuju Tuannya.
Mengadukan bahwa dirinya sudah lulus uji.
Sudah layak diberi bahagia.
--
#06
"Tinggal.", Pintaku.
Benar.
Kau tinggal, -kenangan.
--
#07
Merdu suara,
Wangi tubuh,
Tarian jemari,
Gagah langkah.
Aku mulai lupa.
Tentangmu; memudar.
--
#08
Akan sampai dimana perasaanku jika ia menujumu?
--
#09
Jika aku membuat duniaku sendiri, berkenankah kau berpartisipasi?
Kau boleh menjadi apapun yang kau inginkan.
Pusat tata surya, planet, bintang, bulan, langit, awan, atau tetap menjadi dirimu sendiri.
Terserah.
Pintaku hanya satu:
Tinggal di duniaku, dan jangan pergi.
--
#10
Luruh runtuh seluruh rindu.
Hilang lenyap segenap pilu.

Selamat-
Datang-
di-
Rumah.
--
#11
Aku merindukanmu.
Ralat.
Berbahagialah.
--
#12
Suaramu, tidak akan mampu mengenyahkan lembut suaranya dalam ingatannya.
Genggamanmu, tidak akan mampu membuatnya lupa hangat tangan yang juga pernah menggenggamnya.
Pelukanmu, tidak akan berhasil membuatnya lupa nyamannya pelukan yang dia pernah dapat dari tubuh lain.
Cinta yang kau berikan, tidak akan mampu membuatnya lupa soal cinta-cinta lain yang pernah hadir di hidupnya.

Kadang, begitulah jahatnya kenangan bekerja.
--
#13
Seperti pelangi yang terlukis setelah rintik hujan,
Seperti itulah aku merindukanmu dibeberapa titik waktu.
--
#14
Puisi bagiku adalah rangkaian kalimat penuh makna yang utuh bersama rasa.
Seni mengabadikan kenangan yang tidak dapat diabadikan hanya dengan lensa kamera.
Karena kenangan tidak hanya tentang visual tapi juga tentang apa yang dirasakan.

Abadilah kata-kata indah.
Selamat Hari Puisi Nasional.
--
#15
Pernahkah Amor meleset saat menembakkan panahnya?
Aku yakin pernah.
Kamu mencintaiku pun pasti karena kesalahannya.

Berkacalah.
Tidakkah kamu terlalu sempurna untukku?
--
#16
Tangis,
Makian,
Pemilikan utuh,
Kehilangan diri,
Berbataskan aturan.
Segala yang salah, jadi tidak salah.

"Aku cinta!", dalihnya.
--
#17
Sudah separah apa kita?
Masih mampu berlari kecil?
Berjalan pelan?
Atau sudah lumpuh?
Selangkahpun, apa tidak bisa?

Tenang, tenang..

Jangan lumpuh.
Sementara ini, berjalanlah di tempat.
Hingga nanti ruang lingkup tak lagi terbatas.
--
#18
Tiba-tiba ingin bertanya pada sofa di ruang tamu.

Apakah kau merekam setiap cerita yang mereka katakan?
Apakah sebenarnya kau ingin memukul saat tangan mereka bertaut?
Apakah mendengar tawa mereka membuat kau ikut bahagia?
Apakah mereka membuat iri hingga kau ingin menjadi manusia?

Hei, bagaimana rasanya jadi saksi bisu dua manusia yang akhirnya tidak bisa jadi satu?
--
#19
Kita sudah sampai mana, diri?
Apakah masih diam di tempat?
Atau sudah berlari jauh tapi tujuan tak kunjung terlihat jangkauan mata?

Berlarilah.
Terus dan terus.
Tapi saat merasa lelah yang harus kau lakukan adalah beristirahat.
Jangan menyerah.

Ya?
--
#20
Apa yang salah dengan mencoba lagi?
Apa yang salah saat gagal lagi?
Apakah kata kita memang tidak diciptakan untuk menggabungkan aku dan kamu?

Kenapa?
Kenapa kata kita bisa dipakai oleh aku-aku dan kamu-kamu yang lain, tapi tidak untuk aku dan kamu?
Kenapa?

Komentar

Postingan Populer