Juni.

Duh Juni, kenapa datang setepat waktu ini? Kenapa kau tidak minta waktu memberikan sedikit pengertian untuk diri yang tidak pernah siap setiap kali menyambutmu ini?

Ternyata angka 24 tidak semenyenangkan yang aku pinta. Bahkan tidak ada kesenangan sama sekali. Puncak kekecewaan ada di angka ini. Segala hal yang berkaitan dengan sedih dan tangis melebur jadi kekacauan-kekacauan yang harus dihadapi sendirian.

Sepertinya angka ini memang dijudulkan untuk serangkaian perjalanan menguatkan diri. Lebih hancur dari sebelumnya, lebih kuat juga dari sebelumnya.

Aku tidak tahu dimana letak kesalahannya. Entah itu saat aku minta untuk ada banyak kesenangan-kesenangan karena sebelumnya sedih sudah cukup banyak kurasakan, atau saat aku berharap pinta-pintaku akan dikabulkan oleh Tuhan.

Kita tahu persis bagaimana aku akhirnya muak berpura-pura kuat hingga kabur dari semua orang bahkan dari diri sendiri. Menjelma jadi diri yang aku tidak tahu, dan apa yang ingin kupenuhi. Egoku dan keinginan jadi egois seperti yang lain?

Kini aku sedang menenangkan diri dari cemas-cemas yang datang. Takut jika angka 25 akan jadi sebuah judul dari rentetan perasaan sedih (lagi) yang kelak akan kuceritakan padamu seperti sekarang.

Duh, Juni. Rasanya aku harus mulai melupakan apapun yang membuat diriku jadi merasa tidak baik dan mulai berterima kasih lagi pada diri sendiri seperti sebelum-sebelumnya.

Tapi kali ini terima kasihku hanya untuk satu hal: terima kasih karena saat itu sudah merasa tenang dan pulang ke rumah.

Sekali lagi, terima kasih.

Komentar

Postingan Populer