Usai #2 | Yang tidak pasti; takdir

Di dirimu akhirnya kutemukan nyaman yang selama ini hilang, aman yang selama ini kurindukan, dan perasaan asing bernama cinta yang mulai kembali jadi kebutuhan.

Sepertinya aku telah menemukan tempat pemberhentian terakhir. Berhenti lelah menanti karena kamu sudah dipastikan ada untukku. Karena itu, padamu kuputuskan untuk jatuh-sejatuh-jatuhnya.

Aku tidak pernah sekalipun merasa menyesal telah menjatuhkan hati padamu. Jadi tolong, hapus pikiran soal apakah kamu pantas atau tidak. Kamu sudah cukup untukku. Jadi cukup saja mencintaiku.

Pikiranku melayang jauh pada beberapa waktu. Saat pertama kali kita berbincang, saat pertama kali tanganmu menggenggam tanganku, saat pertama kali bibirmu mengecup keningku, dan saat pertama kali tubuhmu memelukku. Bagaimana bisa aku akan lupa semua hal istimewa itu?

Akan ku ingat segala tentangmu -tentang kita- sampai aku tua. Mengingatmu sebagai salah satu yang pernah kucintai dengan sangat.

Setelah rentetan panjang perkenalan-tumbuh rasa-menjadi kita-dan sampai di detik ini, tidakkah kamu pikir perjalanan kita ini terlalu mudah? Dan sejak kamu katakan janji menyenangkan itu, saat itu aku sadar bahwa kita tidaklah ditakdirkan untuk sampai di titik bersama yang sebenar-benarnya.

Empat tahun. Empat tahun untuk mengutuhkan kita, pintamu. Empat tahun yang pasti akan jadi waktu yang sangat panjang dan sulit untuk dilalui.

Bukan aku tidak mampu mendampingi selama itu. Tapi bertahan selama itu menjalani ketidakpastian soal takdir Tuhan, bisa kamu pastikan kelak hatimu tetap untukku?

Ah, maaf malah meleparkan ragu padamu. Padahal yang pengecut adalah aku.

--

Klik di sini untuk baca balasannya lagi.

Komentar

Postingan Populer