Usai #4 | Yang sementara; kita

Di tengah malam yang hangat, aku pernah menatap wajahmu lama-lama. Menghitung setiap tarikan napasmu yang teratur saat lelap. Memantraimu dengan kalimat, "Betapa beruntungnya aku punya punya kamu.". Barangkali dengan rasa syukur, Tuhan akan berbaik hati menitipkan kamu selamanya padaku. Tapi disaat yang sama, firasatku mengatakan kita adalah sementara.

Aku pikir itu hanya karena rasa takut akan kehilangan dirimu. Tidak pernah kubayangkan jika firasat itu sekarang jadi kenyataan. Entah apalagi yang harus aku katakan padamu. Satu hal yang bisa kupastikan adalah; kita berakhir.

Di sini.

Kalau saja aku tahu kita akan berakhir secepat ini, harusnya aku memelukmu lebih erat saat terakhir kali kita bertemu. Harusnya aku lebih sering menggenggam tanganmu terlebih dahulu. Dan harusnya aku lebih sering mengaku cinta padamu.

Saat ini yang memenuhi hatiku hanyalah penyesalan-penyesalan. Termasuk kenapa aku begitu mudah menyerah. Tapi, sudahlah. Mungkin beginilah harusnya kita.

Dan ternyata inilah harinya. Hari dimulainya kita membiasakan diri untuk kembali sendiri-sendiri. Hari dimana kita harus saling menahan diri untuk tidak memberi kabar karena itu memang yang terbaik.

Kamu sudah tahu. Mencintaimu, aku pun mau selamanya.

Tapi yang terbaik untuk kita mungkin adalah tidak dengan bersama. Jangan menyalahkan diri karena tidak berhasil meyakinkan aku. Semua ini karena aku yang terlalu pengecut. Dan kamu pantas mendapatkan yang lebih daripada aku.

Dicintailah kamu dengan sepenuh hati. Oleh seorang cantik yang bukan aku.
Disayangilah kamu dengan sangat baik. Oleh sebuah hati yang bukan milikku.
Dirawatlah kamu dengan kasih sayang. Oleh seseorang yang kupastikan dia hasil dari do'a-do'a baikku untukmu.

Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya. Saat itu, kupastikan aku jadi takdirmu.

--

Dan, selesai; seperti kita.

Komentar

Postingan Populer